<17/05/08>
BIARKAN AKU BERSAMA HAMBA-KU
Walaupun Abu Jahal dikenal sebagai salah seorang dari musuh Rasulullah yang senior, kenyataannya Nabi masih menasihatinya secara personel.
“Wahai Abu Jahal,” kata Nabi memulai. ”Tahukah kamu cerita tentang Nabi Ibrahim saat beliau diangkat oleh Allah ke alam malakut dan ke tempat yang terletak sedikit di bawah langit. Dari sana dia diberikan oleh Allah suatu kekuatan sehingga bisa menyaksikan apa yang dilakukan oleh manusia di dunia, baik yang hidup di luar atau mereka yang bersembunyi. Tiba-tiba matanya memandang kepada dua orang, laki-laki dan perempuan yang sedang berzina. Ibrahim mengangkat kedua belah tangannya memohon kutukan bagi mereka dan mereka celaka. Kemudian Ibrahim melihat dua orang lain yang melakukan perbuatan sama. Dia panjatkannya lagi doa kutukan sampai keduanya celaka. Kali ketiga dia masih melihat ada dua orang lain yang melakukan perbuatan yang serupa. Berdoa lagi dia seperti di atas sehingga keduanya celaka.
Melihat hal itu Allah berfirman kepada Ibrahim: Wahai Ibrahim, tahan doamu kepada mereka. Sungguh Aku adalah Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Dosa hamba-hamba-Ku tidak akan merugikan-Ku, sebagaimana ketaatan mereka tidak akan menambahkan manfaat apa-apa bagiKu. Aku tidak mengatur mereka dengan cara pelampiasan rasa murka seperti halnya yang kaulakukan.
Tahan doamu dari hamba-hambaKu yang laki-laki dan perempuan karena engkau hanya seorang hamba yang bertugas memberi peringatan. Engkau tidak bersekutu dengan Ku dalam kerajaan. Engkau tidak mempunyai kuasa terhadapKu dan terhadap hamba-hambaKu. Hamba-hambaKu berada di antara tiga sifat:
Pertama, mereka yang memohon ampunan dariKu. Aku ampuni mereka. Aku maafkan kesalahan-kesalahan mereka dan Aku sembunyikan keaiban-keaiban mereka
Kedua, hamba-hambaKu yang Kutahan dari mereka azabKu karena Kutahu kelak dari sulbi mereka akan lahir anak keturunan yang beriman. Aku bersikap lunak terhadap ayah-ayah mereka kafir dan tidak terburu-buru terhadap ibu-ibu mereka yang kafir. Aku angkat dari mereka azabKu agar hamba yang mukmin itu bisa keluar dari sulbi mereka. Apabila mereka ayah dan anak telah terpisah, maka akan datanglah azabKu dan turunlah bencana dari Ku.
Ketiga, mereka yang bukan dari golongan pertama dan kedua. Untuk mereka telah Kusiapkan azab yang lebih besar dari yang kau (Ibrahim) inginkan. Karena azabKu terhadap hamba-hambaKu berdasarkan keagunganKu dan KemahaperkasaanKu.
Wahai Ibrahim, biarkan antara Aku dan hamba-hambaKu karena Aku lebih kasih terhadap mereka ketimbang kau. Biarkan Aku dan hamba-hambaKu karena Aku adalah Allah Yang Maha Kuasa, Maha Sabar, Maha Mengetahui dan Mahabijaksana. Aku mengatur mereka dengan ilmuKu dan Aku laksanakan terhadap mereka ketentuan dan takdirKu.
<11/05/2008>
Tobat yang Sesungguhnya
Pada suatu hari Sayidina Umar bin Khaththab r.a. lewat di hadapan penduduk Madinah. Lalu, seorang pemuda menghampirinya sambil membawa botol di balik bajunya, Sayidina Umar bertanya,”Anak muda, apa yang engkau bawa di balik bajumu?”
Botol itu berisi Khamar, tetapi anak muda itu malu untuk mengatakannya. Di dalam hatinya, ia berdoa,”Ya Allah, janganlah Engkau membuatku malu di hadapan Sayidina Umar. Janganlah Engkau membuka aibku. Tutuplah aibku di hadapannya. Aku tidak akan minum khamar lagi untuk selama-lamanya.”
Kemudian ia berkata,”Amirul Mukminin, yang saya bawa ini adalah cuka.”
Sayidina Umar berkata, Berikan kepadaku agar aku dapat melihatnya.”
Lalu pemuda itu memperlihatkan botol tersebut di hadaapn Umar. Umar kemudian melihat khamat itu benar-benar telah menjadi cuka.
Perhatikan makhluk yang bertobat karena takut kepada makhluk yang lain yang bertaqwa. Allah Swt mengubah khamar itu menjadi cuka ketika diketahui ada pertobatan yagn ikhlas darinya. Jadi, seandainya orang yang telah berbuat maksiat menghentikan perbuatan-perbuatan kejinya, bertobat dengan semurni-murninya (tawbatan nashuha) dan menyesali perbuatannya, Allah Swt akan mengubah khamar kejahatannya dengan cuka ketaatan.
<05/05/2008>
PELUKAN KASIH ALLAH
Musa bin Imran, Nabi Allah yang paling banyak namanya disebutkan dalam Alquran, sebanyak 136 kali, adalah seorang Nabi yang sangat gigih memperjuangkan risalah Allah. Dia tidak pernah merasa putus asa untuk menyadarkan umatnya dari sikap kufur kepadaNya. Hatta kepada Firaun yang secara terang-terangan mensyirikkan Allah dan mengaku dirinya sebagai Tuhan, Musa masih berusaha menyadarkannya.
Manusia yang mendapat julukan Kalimullah, (orang yang diajak bicara oleh Allah) ini sering diilhami oleh Allah dengan firman-firmanNya yang suci, selain dari kitab wahyu Taurat itu sendiri. Bahkan tidak jarang dia berdialog dengan Allah, dialog antara seorang hamba yang sangat dekat dengan Sang Kekasih Yang Maha Pengasih. Cara dialognya mungkin tidak akan dipahami oleh orang-orang awam seperti kita yang memang tidak berada pada maqam seperti Musa. Namun, melihat julukan yang diberikan oleh Allah pada dirinya, tampaknya Musa memang satu-satunya Nabi yang memperoleh keistimewaan itu. Pernah suatu hari beliau menerima wahyu berikut dari Allah.
”Wahai Musa, tanamkan rasa cinta dalam hati makhluk ciptaan-Ku dan jadikan mereka sebagai kekasih-kekasihKu.”
”Ya Rabbi, bagaimana caranya?”
”Sebutkan kepada mereka nikmat-nikmatKu agar mereka mencintaiKu. Apabila kau dapat mengembalikan seorang hamba yang lari dari pintuKu atau hamba yang tersesat dari haribaanKu, maka itu lebih utama dari kau beribadat selama seratus tahun, puasa di siang harinya dan berjaga di malam harinya.”
”Ya Allah ya Rabbi, siapa hambaMu yang lari dari Mu itu?”
”Mereka yang sering melanggar perintahMu dan enggan pulang ke haribaanKu.”
”Siapa hambaMu yang tersesat dari haribaanMu?”
”Mereka yang tidak kenal pada imam zamannya, maka tugasmu adalah mengenalkannya, atau orang yang raib darinya setelah mengenalnya, atau orang yang jahil akan sayariat agamanya, maka tugasmu adalah mengenalkannya syariat dan hukum-hukum kepadanya yang dengannya dia bisa menyembah Tuhannya serta dengannya dia bisa sampai kepada keridaan Tuhannya.”
<30/04/2008>
Anak Muslim dan Ibu Non Muslim
Zakaria bin Ibrahim adalah penduduk kota Kufah yang berasal dari agama Kristen. Dalam sebuah perjalanan hajinya, beliau berjumpa dengan Imam Ja’far Al-Shadiq, yang kebetulan menunaikan ibadah haji dalam tahun yang sama.
”Dahulu saya bukan beragama Islam , dan sekarang telah masuk Islam,”kata Zakaria dalam obrolannya.
”Bagaimana ceritanya sampai Anda masuk Islam?” tanya Shadiq.
”Aku sangat terkesan dengan firman Allah swt,; Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami....”(QS.42:52)
”Allah telah mengaruniakan untukmu bimbingan-Nya; semoga Dia senantiasa membimbingmu. Kalau Anda ada pertanyaan, ajukanlah kepada saya. Insya Allah saya akan membantumu.’
”Wahai Shadiq, ayah, ibu dan semua keluargaku masih dalam agama Kristen. Ibuku seorang yang tunanetra. Aku hidup bersama mereka dan makan minum semangkuk dan sepinggan dengan mereka. Apakah hal itu diizinkan?”
”Apakah mereka makan babi?”
”Tidak.”
”Apakah mereka menyentuh babi?”
”Juga tidak.”
”Kalau begitu, boleh-boleh saja. Jaga ibumu. Patuhi dan berbaktilah padanya. Apabila kelak ia mangkat, engkau urus sendiri jenazahnya dan jangan serahkan pada orang lain.”
Ketika Zakaria pulang ke Kufah, dia memperlakukan ibunya dengan sangat istimewa. Dia suapi ibunya saat makan. Dia cuci pakaiannya. Dia bersihkan badannya. Dia urus segala kebutuhan ibunya.
Suatu hari si ibu bertanya kepadanya,”Zakaria anakku, kau tidak pernah memperlakukan aku seperti ini saat kaum masih berada dalam agamaku dahulu. Tapi setelah kau berpindah ke dalam agama Islam, kulihat kau bersikap sangat berbeda dengan sebelum ini. Apa gerangan yang telah terjadi?”
Pada saat aku berada di Mekah, aku berjumpa dengan salah seorang dari putra Nabi kami. Beliaulah yang memerintahkanku untuk mengurus ibu.”
”Tidak. Orang itu pasti seorang nabi utusan Allah,” kata si ibu ingin tahu.
”Tidak Bu. Dia adalah putra Nabi kami Muhammad saw.”
”Tapi pesan-pesan yang diberikan padamu adalah pesan para nabi, bukan pesan manusia biasa, ” kata si Ibu seakan ingin memberitahu.
”Bu, dalam Islam, Muhammad adalah Nabi yang terakhir. Setelahnya tidak akan ada nabi lain yang akan diutus oleh Allah.”
”Anakku, agamamu adalah agama yang sangat baik. Beritahu aku ajaran-ajaran agamamu,” pinta si ibu.
Kemudian Zakaria mengajarkan kepada ibunya rukun-rukun agama Islam, sampai si Ibu masuk Islam. Ibunya menjalankan perintah shalat sehingga dia dapat melaksanakan salat lima waktu.Suatu malam, ibu Zakaria merasa ajalnya sudah semakin dekat. Dipanggilnya putra yang setianya itu dan dimintanya untuk mengulang-ulangi lagi apa yang diketahuinya tentang Islam.
Zakaria mengajari dan membimbing ibunya dengan sangat tekun. Dituntunnya si Ibu bagaimana mengucapkan kalimat tauhid pada Allah di saat-saat kritis seperti itu, sampailah malaikat maut datang menjemputnya. Sesuai dengan nasihat Imam Shadiq, Zakarialah yang menyalatkannya dan mengebumikan ibunya di liang lahat setelah si ibu dimandikan oleh wanita-wanita muslimah sekitarnya.
<24/04/2008>
Sisa – sisa Perbekalan Mengenyangkan 1.400 Orang
Iyas bin Salamah ra. menceritakan, dalam suatu peperangan para sahabat dan Rasululullah saw. kekurangan perbekalan. Karena itu muncullah keinginan menyembelih sebagian unta yang mereka tunggangi. Lalu Nabi saw. memerintahkan agar para sahabat mengumpulkan seluruh sisa-sisa perbekalan mereka. Maka dibentangkanlah sehelai tikar di hadapan beliau dan ditumpahkanlah di sana seluruh sisa perbekalan mereka. Lalu Rasulullah saw. memberkatinya.
Salamah mengatakan, “Aku berusaha menaksir jumlah pasukan ketika itu, sebagaimana seorang penggembala menaksir jumlah kambingnya. Menurut taksiranku semua anggota pasukan berjumlah sekitar 1.400 orang. Kami semuanya dapat makan sampai kenyang (dari sisa perbekalan yang terkumpul itu), bahkan sesudah makan kami isi pula kantong-kantong perbekalan kami”.
“Masih adakah persediaan air wudhuk?” Tanya Rasulullah saw.
Datanglah seorang lelaki membawa kantong airnya, lalu Rasulullah saw. menuangkannya ke dalam ember. Dan seluruh angora pasukan yang berjumlah 1.400 orang itu dapat berwudhu dengan air itu” (HR. Muslim)
<11/04/2008>
Ketentuan Tuhan Adalah yang Terbaik
Diriwayatkan sebuah kisah di zaman Nabi Isa as. Seorang pria menangis di depan sebuah pusara di tanah perkuburan. Nabi Isa bertanya kepadanya: “Wahai fulan apa yang kamu tangisi di sini?”
Ia menjawab: “Istri saya wahai Nabi Allah, saya merasa sangat kehilangan dia, padahal kami baru 2 bulan saja menikah.”
Nabi Isa berkata lagi:”Tidak adakah wanita lain yang dapat kamu nikahi sehingga kamu tidak perlu begini?”
Ia mengatakan: “Tapi saya merasa sangat kehilangannya. Bolehkah saya meminta tolong kepada anda ya Nabi Allah, hidupkan dia lagi untuk sementara saja...”
Akhirnya Nabi Isa pun menggunakan mukjizat yang Allah bagi padanya, dimana ia dapat menghidupkan orang yang telah mati. Maka bangkitlah wanita yang cantik jelita itu dari kuburnya. Seketika itu dia langsung menghampiri suaminya.
Maka hiduplah mereka dengan bahagia. Saling bermanja satu sama lain.
Hinggalah suatu ketika, wanita itu sedang bersama suaminya, kemudian di depan pintu rumahnya lewatlah seorang pemuda yang sangat tampan dengan pakaian yang serba mewah dan pengawal yang banyak. Maka tanpa dipedulikannya suaminya ia mengahmpiri pemuda itu. Dengan khianatnya ia mengatakan kepada si pemuda bahwa dia wanita lajang. Suaminya yang mengejarnya bersikeras mengatakan kepada pemuda itu, bahwa itulah istrinya! Namun wanita itu tetap mengelak.. Sehingga ketika diadukan hal ini kepada Nabi Isa, Baginda mengatakan bahwa jikalau memang wanita itu bukan istri si pria, maka ia akan tetap hidup namun jika ia adalah istri dari si pria maka ia akan mati tanpa dapat dihidupkan kembali...
Dan matilah wanita itu karena ia memang istri dari pria tadi. Namun, sekarang ia mati dalam keadaan khianat dengan suami dan Tuhan, nauzubillah....
Semoga kita dapat mengambil hikmahnya... redhalah dengan ketentuan Allah.
<08/04/2008>
Pentingnya Berdoa untuk Ahli Kubur
Seorang pemuda yang telah meninggal dunia telah datang menemui Tsabit Al Banani di dalam tidurnya. Rohnya datang dalam keadaan berserabut, wajahnya puncat lesu, cemas dan gundah gulana. Tsabit dapat melihat di dalam tidurnya itu, pemuda tersebut berjalan dengan tangan kosong sambil air matanya mengalir.
Dalam masa yang sama dia melihat semua ahli kubur yang lain memakai pakaian putih bersih serta membawa makanan beraneka macam.
Tsabit pun bertanya mengapakah keadaannya demikian. Pemuda itu berkata bahwa tidak ada seorang pun di dunia yang mau mendoakan serta bersedekah untuknya. Sedangkan ahli-ahli kubur yang lain mempunyai keluarga dan sanak saudara yang sering berdoa dan bersedekah untuk mereka pada setiap malam jumaat.
Ibunya masih hidup, tetapi setelah nikah lagi, ibunya lupa untuk berdoa dan bersedekah untuknya. “Kini aku telah berputus asa dan senantiasa lagi cemas sepanjang masa,”kata pemuda itu. Tsabit pun bertanya tentang ibunya dan di mana dia tinggal serta berjanji akan menceritakan keadaan pemuda itu kepadanya.”Katakan bahwa di dalam bajunya ada uang seratus misgal warisan ayahku. Uang itu adalah kepunyaanku. Nanti dia akan percaya apa terhadap apa yang tuan ceritakan.”
Setelah terjaga, Al Banani langsung mencari ibu pemuda itu dan menceritakan kisahnya. Ibu itu jatuh pingsan apabila mendengar kesusahan yang menimpa anaknya. Ketika sadar, dia memberikan uang sebanyak 100 misgal tersebut kepada Al Banani untuk disedekahkan dengan diniatkan pahalanya untuk roh anaknya.
Sekali lagi roh pemuda itu datang berjumpa Al Banani di dalam mimpinya. Wajahnya berseri-seri penuh kegembiraan. Kata pemuda “Wahai Imam Muslimin, mudah-mudahan Allah mengasihani engkau sebagaimana engkau mengasihani aku.’
<02/04/2008>
Kasih Sayang Rasulullah
Pada saat dalam perjalanan menuju ke pasar, Rasulullah SAW melihat seorang budak (hamba sahaya) sedang menangis di tepi jalan. Bila baginda bertanya mengapa menangis? Budak itu menjawab bahwa dia menangis karena uang yang diberi oleh tuannya telah hilang. Rasulullah SAW langsung mengganti uang yang hilang itu dengan uang baginda sendiri.
Tetapi ketika baginda kembali dari pasar, dilihatnya budak yang sama menangis.
”Kenapa kamu masih menangis?” tanya Rasulullah SAW.
”Kali ini saya menangis karena takut dimarahi dan dipukul oleh tuan saya karena saya sudah terlambat pulang dari pasar,” jawab budak itu.
Untuk mengelakkan budak itu dari dimarahi, Rasulullah SAW pun menemaninya pulang. Rupanya rumah itu dihuni oleh sekumpulan wanita. Rasulullah SAW langsung memberi salam. Setelah tiga kali memberi salam, barulah salam Rasulullah SAW dijawab. Rasulullah SAW bertanya, ”Apakah kamu tidak mendengar salam saya sebelumnya?”
Wanita –wanita itu menjawab,”Kami dengar, tetapi sengaja kami tidak jawab supaya kami mendapat banyak doa dari Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW terus menerangkan mengapa budak itu pulang terlambat. Baginda meminta supaya budak itu tidak dicambuk, tetapi sekiranya mereka tidak puas hati, Rasulullah menawarkan dirinya sebagai ganti untuk dicamnbuk. Lantas Rasulullah SAW menyingsingkan lengan bajunya.
Mendengar kata-kata Rasulullah SAW itu, kumpulan wanita itu lantas berkata, ”Tidak, ya Rasulullah. Mulai sekarang, kami merdekakan budak itu.”
Itulah hasil kasih sayang yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW.
<26/03/2008>
BANTUAN ALLAH DALAM PEPERANGAN BADAR
Ibnu Abi Hubaisy r.a bercerita sebelum masuk Islam aku telah ditawan di dalam peperangan Badar. Demi Allah! Yang menawanku itu bukanlah dari kalangan manusia. Tanya para sahabat:”Kalau begitu siapa?”
Ibnu Abi Hubaisy r.a lalu menceritakan pengalamannya. Ketika kafir Quraisy mengalami kekalahan termasuklah aku, datang seorang lelaki bertubuh tinggi dan serba putih yang berada di antara langit dan bumi. Diapun menangkap dan mengikat aku. Kemudian datang Sayidina Abdurrahman bin Auf r.a lantas dia berteriak kepada tentara Islam dan menanyakan siapa yang mengikat aku. Tidak ada satu orangpun yang mengakuinya. Apabila aku dihadapkan kepada Rasulullah SAW, baginda bertanya kepadaku:”Siapakah yagn menangkap engkau?” Aku menjawabnya, “tidak tahu”, karena aku benci untuk menceritakan apa yang telah aku saksikan sendiri pada waktu itu. Kata Rasulullah SAW: “Yang menangkap engkau ialah salah seorang dari kalangan malaikat”.
<15/03/2008>
JANJI TUHAN PASTI DITEPATI
Dua orang tokoh agama datang mengunjungi Rab’iah dan keduanya merasa lapar. “mudah-mudahan Rabi’ah menyuguhkan makanan kepada kita,” kata mereka. Makanan yang disuguhkan pastilah diperoleh secara halal.”
Ketika mereka duduk, di hadapan mereka terhampar serbet diatasnya ada dua potong roti. Melihat hal ini mereka sangat gembira. Tetapi pada saat itu juga ada seorang pengemis datang dan Rab’iah memberikan kedua roti itu kepadanya. Kedua tokoh agam itu sangat kecewa, namun, mereka tidak berani berkata apa-apa. Tak berapa lama kemudian masuklah seorang pelayan wanita membawakan beberapa buah roti yang masih panas.
“Majikanku menyuruhku untuk mengantarkan roti-roti ini kepadamu,” kata si pelayan.
Rab’iah menghitung roti-roti kesemuanya ada delapan belas buah.
”Mungkin roti-roti ini bukan untukku, kata Rab’iah.
Si pelayan berusaha meyakinkan Rab’iah namun percuma saja. Akhirnya roti-roti itu dibawanya kembali. Pelayan itu menyalahkan dirinya sendiri. Ia menyangka Rab’iah tidak mengetahui perbuatannya bahwa ia telah mengambil dua puluh roti itu untuk dirinya sendiri sehingga roti itu yang berjumlah dua puluh itu tinggal delapan belas. Maka ia segera meminta dua potong roti lagi kepada majikannya dan kembali lagi ketempat Rab’iah. Roti-roti itu dihitung oleh Rab’iah. Ternyata jumlahnya genap dua puluh buah. Barulah Rab’iah mau menerimanya.
”Roti- roti ini memang telah dikirimkan majikanmu untukku,” kata Rab’iah.
Kemudian Rab’iah menyuguhkan roti-roti tersebut kepada kedua tamunya tadi. Keduanya makan namun masih dalam keadaan terheran-heran.
”Apakah rahasia di balik semua ini? Mereka bertanya kepada Rab’iah. “Kami ingin memakan rotimu sendiri tapi engkau malah memberikannya kepada seorang pengemis. Kemudian engkau mengatakan kepada pelayan tadi bahwa kedelapan belas roti itu bukanlah diberikan untukmu, tetapi ketika semuanya berjumlah dua puluh engkau baru menerimanya?”
Rab’ iah menjawab, “Sewaktu kalian datang, aku tahu bahwa kalian sedang lapar. Aku berkata kepada diriku sendiri, betapa aku tega untuk menyuguhkan dua potong roti kepada dua orang pemuka agama yang terhormat? Itulah sebabnya mengapa ketika pengemis itu datang aku segera memberikan dua potong roti itu kepadanya dan aku berkata kepada Allah Yang Maha Besar, ya Allah, Engkau telah berjanji bahwa Engkau akan memberikan ganjaran sepuluh kali lipat dan janjiMu itu kupegang teguh. Kini telah kusedekahkan dua potong roti untuk menyenangkan hatiMu, semoga Engkau berkenan memberikan dua puluh potong roti sebagai imbalannya. Ketika delapan belas roti itu diantarkan kepadaku, tahulah aku bahwa sebagian dari jumlah roti itu telah dicuri atau roti-roti itu bukan untuk disampaikan kepadaku.
<07/03/2008>
HANYA WALI YANG MENGETAHUI WALI
Pada suatu hari, ketika Abu Amr, seorang ahli tafsir terkemuka sedang mengajarkan Al-Quran, tak disangka-sangka datanglah seorang pemuda tampan ikut mendengarkan pembahasannya. Demikian tampannya pemuda itu hingga Abu Amr terpesona memandangnya dan secara mendadak lupalah ia kan setiap kata dan huruf dalam Quran. Ia sangat menyesal dan gelisah karena perbuatannya itu. Dalam keadaan seperti ini pergilah ia mengunjungi Hasan Bashri dari Basrah untuk mengadukan kegelisahan hatinya.
“Guru”, kata Abu Amr sambil menangis sedih. ”Begitulah karena terpesona oleh ketampanan pemuda itu, maka setiap kata dan huruf Al-Quran telah hilang dari ingatanku.”
Hasan Al Bashri begitu terharu melihat keadaan muridnya itu. Kemudian ia berkata kepada Abu Amr, “Sekarang ini adalah musim haji. Pergilah ke Tanah Suci dan tunaikanlah ibadah haji. Sesudah itu pergilah ke masjid Khaif. Di sana engkau akan bertemu dengan seorang tua. Jangan engkau langsung menegurnya tapi tunggulah sampai keasyikannya beribadah selesai. Setelah itu barulah engkau memohonkan agar ia mau berdoa untukmu.
Abu Amr menuruti nasihat Hasan Bashri. Sesudah melaksanakan ibadah haji ia pergi ke masjid Khaif. Di pojok ruangan masjid ia melihat seorang tua yang patut dimuliakan dan beberapa orang duduk mengelilingi dirinya. Beberapa saat kemudian masuklah seorang lelaki yang berpakaian putih bersih. Orang–orang yang berkerumun memberi jalan kepadanya, mengucapkan salam dan setelah itu mereka berbincang-bincang dengan dia. Ketika waktu shalat telah tiba, lelaki tersebut meminta diri untuk meninggalkan tempat itu. Tidak berapa lama kemudian yang lain-lain pun pergi pula, sehinga yang tertinggal di tempat itu hanyalah si orang tua tadi.
Abu Amr menghampiri dan mengucapkan salam kepadanya. “Dengan nama Allah tolonglah diriku ini,”Abu Amr berkata sambil menangis. Kemudian menerangkan duka cita yang menimpa dirinya. Si orang tua sangat perihatin mendengan penuturan Abu Amr tersebut, lalu menengadahkan kepala dan berdoa.
Belum lagi orang tua itu merendahkan kepalanya semua kata huruf Al-Quran telah dapat diingatnya kembali. Abu Amr sujud di depan orang tua itu karena rasa syukurnya.
“Siapakah yang telah menyuruhmu untuk menghadap kepadaku?” tanya orang tua itu kepada Abu Amr.
“Hasan Al Bashri dari Basrah,” jawab Abu Amr.
“Jika seseorang telah mempunyai imam seperti Hasan,”orang tua itu berkomentar,”Mengapa ia memerlukan imam yang lain?”
Tapi baiklah, Hasan telah menunjukkan siapa diriku ini dan kini akan kutunjukkan siapakah sebenarnya dia. Ia telah membuka selubung diriku dan kini kubuka pula selubung dirinya,”
Orang tua itu diam sebentar lalu meneruskan penuturannya,” Lelaki yang berjubah putih tadi, yang datang ke sini setelah shalat Ashar, dan yang terlebih dahulu meninggalkan tempat ini serta dihormati orang-orang lain tadi, ia adalah Hasan Al Bashri. Setiap hari setelah melakukan shalat Ashar di Bashrah * ia berkunjung ke sini, berbincang-bincang bersamaku, dan kembali lagi ke Bashrah utnuk shalat Magrib di sana. Jika seseorang telah mempunyai imam seperti Hasan Al Bashri, mengapa ia masih merasa perlu memoonkan doa dari diriku ini?”
Ket: * Padahal jarak antara kota Bashrah dengan masjid Khaif cukup jauh dan tidak dapat ditempuh dalam satu hari perjalanan pada masa itu. Ini menunjukkan betapa Hasan mempunai karomah atau keistimewaan luar biasa.
<03/03/2008>
SI PENYEMBAH API
Hasan Bashri mempunyai seorang tetangga bernama Simoen, seorang penyembah api. Suatu hari Simeon jatuh sakit dan ajalnya hampir tiba. Sahabat-sahabat meminta agar Hasan sudi mengunjunginya. Akhirnya Hasan pun pergi mengunjungi Simoen yang terbaring di atas tempat tidur dan badannya telah kelam karena api dan asap.
Hasan memberi nasehat, “Takutlah kepada Allah, “Engkau telah menyia-nyiakan seluruh usiamu di tengah-tengah api dan asap.”
“Ada tiga hal yang mencegahku untuk menjadi seorang Muslim.” Jawab Simoen si Penyembah Api. “Yang pertama adalah kenyataan bahwa sekalipun kalian membenci keduniawian, tetapi siang dan malam kalian mengejar harta kekayaan. Yang kedua, kalian mengatakan bahwa mati adalah suatu kenyataan yang harus dihadapi, namun kalian tidak bersiap-siap untuk menghadapinya. Yang ketiga, kalian mengatakan bahwa Allah Maha Melihat hinga saat ini kalian melakukan segala sesuatu yang tidak diredhai-Nya.”
Hasan melengak, tak disangka si Penyembah Api mempunyai kedalaman mata batin seperti itu. “Inilah ucapan dari manusia-manusia yang sungguh-sungguh mengetahui.” kata Hasan.”Jika orang-orang Muslim berbuat seperti yang engkau katakan, apa pulakah yang hendak kau katakana? Mereka mengakui keesaan Allah sedangkan engkau menyembah api selama tujuh puluh tahun, dan aku tak pernah berbuat seperti itu. Jika kita sama-sama terseret ke dalam neraka, api neraka akan membakar dirimu dan diriku, tetapi jika diijinkan Allah, api tidak akan berani menghanguskan sehelai rambut pada tubuhku. Hal ini karena api diciptakan Allah dan segala ciptaan-Nya tunduk pada perintah-Nya. Walaupun engkau menyembah api selama tujuh puluh tahun, marilah bersama-sama menaruh tangan kita ke dalam api agar engkau dapat menyaksikan sendiri betapa api itu sesungguhnya tak berdaya dan betapa Allah itu Maha Kuasa.”
Setelah berkata demikian Hasan memasukkan tangannya ke dalam api. Namun sedikitpun ia tidak cedera atau terbakar. Menyaksikan hal ini Simoen terheran-heran. Fajar pengetahuan terlihat olehnya.
“Selama tujuh puluh tahun aku menyembah api,” Simoen mengeluh. “Kini hanya dengan satu atau dua helaan nafas saja yang tersisa, apakah yang harus kulakukan?”
“Jadilah seorang Muslim” jawab Hasan.
“Jika engkau memberiku jaminan tertulis bahwa Allah tidak menghukum diriku,” kata Simoen. “Barulah aku menjadi seorang Muslim. Tanpa jaminan itu aku tak sudi memeluk agama Islam.”
Hasan segera membuat sebuah surat jaminan.
Kini susullah orang –orang yang jujur di kota Bashrah untuk memberikan kesaksian mereka atas surat jaminan tersebut.”
Simoen mencucurkan air mata dan menyatakan dirinya masuk Islam. Kepada Hasan ia menyampaikan wasiatnya yang terakhir,” setelah aku mati, mandikanlah aku dengan tanganmu sendiri, kuburkanlah aku dan selipkan surat jaminan ini di tanganku. Surat ini akan menjadi bukti bahwa aku adalah seorang Muslim.”
Setelah berwasiat demikian ia mengucapkan dua kalimah syahadat dan menghembuskan nafasnya yang terakhir. Mereka memandikan mayat Simoen, menshalatkannya dan menguburkannya dengan sebuah surat jaminan ditangannya.
Malam harinya Hasan pergi tidur sambil merenungi apa yang telah dilakukannya itu. ”Bagaimana aku dapat menolong orang yang sedang tenggelam sedang aku sendiri dalam keadaan serupa. Aku sendiri tidak dapat menentukan nasibku, tetapi mengapa aku berani memastikan apa yang dilakukan oleh Allah?”
Dengan galau pikiran-pikiran seperti ini Hasan sulit untuk segera memejamkan mata. Namun begitu ia tertidur ia bermimpi bertemu Simoen, wajah Simoen cerah dan bercahaya seperti sebuah pelita; dikepalanya terlihat sebuah mahkota. Ia mengenakan sebuah jubah yang indah dan sedang berjalan-jalan di taman sorgawi.
”Bagaimana keadaanmu Simoen ?” tanya Hasan kepadanya.
”Mengapa engkau beraninya padahal kau menyaksikan sendiri? Jawab Simoen. ”Allah Yang Maha Besar dengan segala kemurahan-Nya telah menghampirkan diriku kepada-Nya. Karunia yang dilimpahkan kepadaku melebihi segala kata-kata. Engkau telah memberiku sebuah surat jaminan, terimalah kembali surat jaminan ini karena aku tidak membutuhkannya lagi.”
Ketika Hasan terbangun ia mendapatkan surat jaminan itu telah berada di tangannya. ”Ya Allah,” seru Hasan. ”Aku menyadari bahwa segala sesuatu yang Engkau lakukan adalah tanpa sebab kecuali karena kemurahan-Mu semata. Siapakah yang akan tersesat di pintu-Mu? Engkau telah mengizinkan seseorang yang telah menyembah api tujuh puluh tahun lamanya untuk menghampiri-Mu, semata-mata karena sebuah ucapan. Betapakah Engkau akan menolak seseorang yang telah beriman selama tujuh puluh tahun?”
|