<05/08/08>
Contoh Teladan dari Abu Usman al Khairi
Abu Usman al Khairi diundang oleh seseorang untuk berkunjung ke rumahnya. Orang yang mengundang itu sudah terlebih dahulu merencanakan akan mencoba Abu Usman. Sewaktu Abu Usman sampai di rumahnya, dikatakanlah kepada Abu Usman, bahwa, ”Saya yang mengundang itu, tidak mempunyai hajat apa-apa.” Maka kembali pulanglah Abu Usman.
Ketika Abu Usman pergi dan belum jauh dari rumah itu dipanggil kembali untuk kedua kalinya oleh orang tersebut, seraya katanya, ”Ya Ustadz, kembalilah!” maka kembalilah Abu Usman kepadanya. Tetapi setelah sampai di tempat orang yang mengundang itu, dinyatakanlah lagi kepadanya sebagaimana apa yang telah dinyatakan semula yaitu, tidak mempunyai hajat apa-apa. Dan Abu Usman pergi lagi meninggalkan tempat itu sebagaimana yang dilakukannya pertama kali.
Dan panggilan-panggilan ini dilakukan oleh orang itu sampai berkali-kali, dan setiap panggilan untuk kembali tentu dikabulkan oleh Abu Usman dan setelah panggilan yang terakhir, setelah berkali-kali, dan Abu Usman pun sudi datang kembali, maka akhirnya orang yang memanggil itu berjongkok di depan Abu Usman seraya mencium tangannya berkali-kali, seraya menyatakan sebagai berikut,”Ya Ustadz, sebenarnya maksud saya berbuat demikian itu hanya untuk mencoba tuan, kini saya tahu dn kagum, betapa tingginya akhlak tuan yang tidak mungkin terjadi pada orang lain.”
<29/07/08>
PEMURAH DENGAN DUNIA
Sewaktu Imam Syafii kembali dari Shan’a Yaman, sebagai seorang guru besar, beliau ke Mekah lebih dahulu. Beliau dihadiahkan orang uang yang banyak, puluhan ribu uang emas. Orang berkata kepada beliau, ada baiknya kita beli saja barang-barang berharga. Beliau tidak menhiraukan (mendengarkan) pendapat orang itu.
Setelah beliau sampai keperbatasan Mekah dan Yaman maka diluar kota Mekkah beliau mendirikan kemah kecil dan beliau membuka ikatan tempat uang tersebut di dalam kemah beliau. Semua fakir miskin yang datang pada beliau, beliau genggamkanlah pada setiap tangan mereka uang – uang tersebut, dari pagi sampai waktu sembahyang zuhur, habislah semua uang yang ada pada beliau dan tidak ada yang tinggal sepersenpun. Kenapa demikian? Sebab Imam Syafii teringat kepada pesan ibunya: Apabila engkau masuk Mekah sedangkan padamu ada uang, meskipun sepeser, aku tidak dapat menerimamu.”
Maksud Ibunya ialah, jangan dunia yang dipersembahkan pada ibunya, tetapi ilmu dan amal yang harus dibawanya. Dengan ini teranglah bagi kita, bahwa untuk dunia jangan berfikir panjang, tetapi berikanlah dunia itu untuk kepentingan agama demi kebahagiaan yang abadi.
<20/07/08>
KEBAHAGIAN YANG HAKIKI ADALAH TAWAKKAL DAN KEMBALI KEPADA ALLAH
Seorang laki-laki yang datang setiap pagi meminta-minta ke rumah Sayidina Umar bin Khattab ra. Setelah sekian kalinya ia meminta kepada Umar, maka pada suatu pagi ia datang lagi karena maksud meminta. Sayidina Umar berkata kepada-Nya: Saudara! Apakah anda mengharapkan sesuatu itu kepada Umar atau kepada Allah? Pergilah anda dari sini dan pelajarilah Al-Quran, sebab Al Quran dapat mengayakan anda (mencukupi anda) tanpa datang mengemis setiap pagi ke pintu-pintu rumah orang.
Laki-laki itupun pergi dan tidak muncul-muncul lagi dalam waktu yang lama. Sehingga Umar merasa kehilangan karenanya. Umar bertanya ke sana-sini tentang laki-laki itu, maka ditunjukkan oranglah disuatu tempat. Umar pergi ke sana dan menemukan laki-laki itu sedang tekun mengerjakan ibadahnya. Sayidina Umar berkata kepadanya: “Sesungguhnya aku merasa kehilangan saudara, sehingga selama ini aku rindu untuk dapat bertemu dengan anda, kenapakah anda meninggalkan kami dan tidak muncul-muncul lagi?”
Laki-laki itu menjawab: Bahwasanya aku setelah membaca Al Quran rupanya dengan itulah aku tidak memerlukan Sayidina Umar dan keluarganya (dalam mengharapkan sesuatu). Sayidina Umar berkata kepadaNya: Mudah-mudahan engkau selalu dirahmati oleh Allah SWT. Maka apakah yang engkau dapati dalam Al Quran itu? laki-laki itu menjawab: Saya telah mendapatkan di dalam Kitab Suci Al-Quran firman Allah SWT dalam surah Adz-Dzaariyat, Jus: 27, ayat: 2:
“Dan di langit itulah (sebab) rizkimu (yakni hujan), dan apa-apa yang dijanjikan kepadamu (pahala atau siksa).” Karena ayat ini saya berkata pada diri saya sendiri: Rezkiku di langit, sedang aku mencarinya di dunia. Mendengar itu Sayidina Umar menangis dan apa yang dikatakan laki-laki tadi merupakan pelajaran baginya. Setelah kejadian itu, maka Umar sering datang pada laki-laki itu mendengarkan pandapat yang bermanfaat daripadanya
Wasiat Nabi Muhammad kepada Ibnu Abbas
Apabila anda bermohon, maka bermohonlah kepada Allah. Dan apabila anda minta pertolongan, maka mintalah kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa segala makhluk seandainya jikalau bersusah payah mereka untuk membantu anda dengan sesuatu yang tidak dituliskan Allah untuk anda, pasti mereka tidak akan sanggup atas demikian. Dan seandainya jikalau sekalian makhluk ingin memudharatkan anda dengan sesuatu di mana tidak dituliskan Allah buat anda, pasti juga mereka tidak akan sanggup. Segala buku/telah terlipat dan segala pena telah kering. Demikianlah mendalamnya wasiat Nabi Muhammad saw kepada Ibnu Abbas.
<13/07/08>
WAJAH-WAJAH ZUHUD
“Suatu hari seorang wanita Anshar datang ke rumah Rasulullah,”kata Aisyah mengawali ceritanya. “Kemudian, dia saksikan tempat tidur Rasulullah hanya berupa sebuah kasur kasar yang terbuat dari pelepah kurma yang kering. Tidak lama setelah dia pulang kasur sutera yang ingin dihadiahkannya kepada Rasulullah. Nabi pulang ke rumah. Ketika dilihatnya ada kasur sutera yang terbentang di pojok rumahnya, beliau bertanya,”Wahai Aisyah, dari mana kauperoleh ini?”
Dari seorang wanita Anshar yang karena melihat kasurmu seperti itu maka dia ingin menggantinya dengan kasur sutera ini.”
“Tidak, wahai Aisyah,”jawab Nabi. “Pulangkan lagi padanya. Demi Allah, apabila aku mau, maka Allah akan jadikan untukku gunung-gunung dari emas dan perak.”
Nabi saw bukan tidak memiliki dunia, tetapi Nabi tidak mau dimiliki oleh dunia. Pada awal kenabiannya ketika pemuka-pemuka musyrikin Makkah menawarkan padanya wanita, harta dan kekuasaan kota Makkah, asal Nabi berdiam tidak melanjutkan dakwah risalahnya, Nabi dengan tegas menolaknya. Sikap menolak dari dimiliki dan dikuasai oleh dunia seperti ini kemudian popular dengan sebutan zuhud…
“Zuhud bukan berarti engkau mengharamkan dirimu dari menyentuh sesuatu yang dihalalkan oleh Allah padamu atau meniadakan hartamu, tapi suatu sikap di mana engkau lebih percaya apa yang ada di tangan Allah ketimbang apa yang ada di tanganmu,” kata Nabi di hadapan sahabatnya.
“Apa ciri-ciri orang yang zuhud?”
Imam As-Shadiq menjawab,”Orang zuhud adalah orang yang memilih akhirat ketimbang dunia’ orang bersikap hina (di hadapan Allah) dan tidak congkak; orang yang mengutamakan kesungguhan ketimbang bermalas-malasan; orang yang lebih sering lapar ketimbang kenyang; orang yang lebih berharap pada ganjaran akhirat ketimbang kepuasan sementara; mengutamakan ingat pada Allah ketimbang lalai; dan orang yang dirinya berada di dunia sementara hatinya di akhirat.”
<06/07/08>
Kerinduan Kepada Allah SWT
Nabi Isa a.s melewati seorang pemuda yang sedang menyiram kebunnya. Pemuda itu berkata,”Mohonkanlah kepada Tuhan agar menganugerahi saya kecintaan kepada-Nya walau sebesar biji sawi.”
“Engkau tidak akan mampu menanggungnya sebesar biji sawi pun.” Jawab Nabi Isa a.s
“Kalau begitu, separuh biji sawi,” pinta pemuda itu.
Lalu Nabi Isa a.s pun berdoa, “Tuhanku, anugerahilah ia separuh biji sawi kecintaan kepada-Mu.”
Nabi Isa a.s kemudian berlalu darinya. Setelah lewat beberapa waktu, Nabi Isa a.s lewat lagi di tempat itu. Ia bertanya kepada orang-orang tentang pemuda itu. Mereka menjawab bahwa pemuda itu adalah jin dan telah pergi ke puncak gunung. Nabi Isa a.s lantas berdoa agar diperlihatkan kepadanya pemuda itu. Nabi Isa a.s kemudian melihatnya di puncak gunung. Ia sedang berdiri di atas sebuah batu seorang diri dan kepalanya memandang ke langit. Nabi Isa a.s memberi salam kepadanya, tetapi ia tidak menjawab. Nabi Isa a.s berkata,”Aku adalah Nabi Isa.”
Allah SWT lalu berfirman kepadanya, ”Bagaimana dapat mendengar ucapan manusia orang yang di dalam kalbunya terdapat separuh biji sawi kecintaan kepada-Ku. Oleh karena itu, demi kemulian dan keagungan-Ku, kalaupun engkau memotongnya dengan gergaji, niscaya ia tidak akan menyadari hal itu.”
Barang siapa mengharap tiga hal tetapi tidak menyucikan diri dari tiga hal yang lain, berarti ia tertipu. Pertama, orang yang mengaku mengharap manisnya zikir, tetapi mencintai keduniaan. Kedua, orang yang mengharap kecintaan akan keikhlasan dalam perbuatan namun menyukai sanjungan manusia. Ketiga, orang yang mengharap kecintaan kepada Pencipta namun tidak menundukkan dirinya kepada-Nya.
<01/07/08>
NASEHAT SYEKH KEPADA MURID
Imam Ali bin Musa Ridha, salah seorang imam sufi besar yang lahir tahun 148 H pernah bercerita kepada para muridnya. ”Suatu hari Allah mewahyukan kepada salah seorang Nabi utusan-Nya: Ketika pagi hari menyosongmu, maka benda pertama yang kauhadapi hendaklah kau makan; benda kedua hendaklah kausembunyikan; bendak ketiga hendaklah kau terima; benda keempat hendaklah jangan kau kecewakan; benda kelima hendaklah kau lari darinya.”
Besok paginya, ketika tengah berjalan, dia dihadapkan pada sebuah bukit besar berwarna hitam. Dia terhenti dan berkata,’Allah telah memerintahku untuk memakan ini. Apakah mungkin?” Sang Nabi merenung keheranan. Kemudian, dia menyadari bahwa Allah tidak mungkin akan memerintahkannya untuk melakukan sesuatu di luar batas kemampuannya. Nabi ini terus berjalan untuk memakannya. Semakin dia mendekat, semakin kecil bukit itu berubah, sampailah ia menjadi segenggam makanan. Sang Nabi memakan dan mendapatinya sebagai makanan yang terlezat.
Kemudian dia melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba dia menemukan sebuah nampan emas. Katanya, ”Tuhanku telah memerintahkanku untuk menyembunyikannya.’ Digalinya tanah yang ada di sekitarnya, lalu nampan emas itu dia kuburkan dalam-dalam. Dia pergi meninggalkan tempat itu. Tengah dia berjalan, nampan yang sama muncul kembali dihadapannya. ”Ya Allah, ya Tuhanku. Hamba telah patuhi perintah-Mu,” kata Nabi ini setengah terkejut melihat nampan itu. Ketika da tengah berjalan, tiba-tiba dia melihat seekor burung tengah berjalan, tiba-tiba dia melihat seekor pemburu. Si burung terbang mengitari Nabi ini. Katanya,”Bukankah Alalh memerintahku untuk menerimanya,” Sang Nabi membukakan lengan baju jubahnya yang besar dan burung pun masuk ke dalamnya. Pemburu tersebut berkata,”Wahai hamba Allah, Anda telah mengambil burung yang kuburu sejak berhari-hari yang lalu.”Sang Nabi ingat kembali akan perintah Allah kepaddanya.” Allah memerintahku untuk tidak mengecewakannya.” Lalu, Nabi ini memotong bagian paha si burung dan diberikannya kepada si pemburu. Tiba-tiba paha burung tersebut berubah menjadi sepotong daging yang sangat busuk dan berulat. Sang Nabi lari meninggalkannya dan pulang ke rumah.
Dalam mimpinya, sang Nabi mendapat jawaban dari perintah Allah di atas. ”Kau telah melakukan semua perintah-Ku. Apakah kautahu apa ta’birnya?”
”Tidak,” jawab sang Nabi.
”Adapun gunung yang harus kaumakan adalah ibarat sifat marah. Apabila seorang hamba marah, maka dia tidak lagi melihat siapa dirinya dan seberapa besar harga dirinya lantaran demikian besarnya sosok marah. Jika dia jaga dirinya, mengetahui nilai dan harga dirinya, dan meredakan marahnya, maka dia akan dapati sifat marah tersebut tidak lebih dari sekedar segenggam makanan yang lezat dimakan.
Adapun nampan emas, ia adalah ibarat amal saleh. Apabila seorang hamba berusaha untuk menyembunyikan dan tidak memamerkannya di depan khalayak, maka Allah akan tetap menampakkannya sebagai penghias dirinya dengan tetap memberinya ganjaran pahala di akhirat seperti yang dijanjikan-Nya.
Adapun seekor burung, ia ibarat seseorang yang datang untuk memberimu nasihat. Terimalah kedatangannya dan terimalah nasihat. Sementara pemburu adalah ibarat seseorang yang datang kepadamu lantaran hajat yang dibutuhkannya, maka jangan kaukecewakan harapannya.
Adapun daging yang busuk dan berulat adalah ibarat ghibah atau kata-kata gunjingan. Dan hendaknya kaulari darinya sekuat tenagamu.
<24/06/08>
HAMBA YANG MENERIMA SYUKUR ALLAH
Sujud adalah rukun penting dalam ibadah shalat. Tanpanya suatu shalat tidak akan sah di sisi Allah. Sujud juga merupakan simbol kehinaan hamba di hadapan Penciptanya. Enggan bersujud akan berarti bersikap sombong dan angkuh kepada Allah swt.
Selain sujud dalam shalat, juga ada sujud-sujud lain yang intinya adalah pengagungan hamba kepada Allah Azza wa Jalla, seperti sujud tilawah, yakni sujud karena membaca sebuah ayat Alquran yang mengandung makna kebesaran Allah dan sujud syukur yang esensinya merupakan sikap syukur seorang hamba kepada Allah atas segala nikmat yang diterimanya.
Imam Ja’far Muhammad Al Shadiq berkata, ’Sujud wajib dalam shalat adalah kewajiban sempurna, dan dengannya hamba mendapatkan redha Allah, dan dengannya para malaikat akan mengaguminya. Apabila seorang hamba melakukan sujud syukur setelah usai shalat, maka Allah akan bukakan hijab antara hamba itu dengan malaikat_Nya. Allah akan berkata: Wahai Malaikat-Ku, lihatlah hamba-Ku. Dia telah tunaikan kewajibannya pada-Ku. Dia telah sempurna janjinya pada-Ku. Kemudian dia bersimpuh sujud pada-Ku mensyukuri nikmat-nikmat yang Kuberikan padanya. Wahai Malaikat-Ku, apa yang baik Kuberikan padanya?”
Malaikat berkata,”Wahai Tuhan kami, dia berhak mendapatkan rahmat-Mu.”
”Kemudian apa lagi?” tanya Allah kembali.
”Wahai Tuhan kami, dia berhak mendapatkan surga-Mu.”
”Lalu apa lagi?”
”Wahai Tuhan kami, dia berhak mendapatkan naunganMu yang meliputi segala sesuatu.”
”Lalu apa lagi?”
Kemudian Malaikat menyebutkan anugerah Allah satu persatu yang berhak diperoleh hamba ini. Setelah selesai, Allah menjawab mereka,” Wahai malaikat-Ku, Aku akan bersyukur (berterima kasih) padanya sebagaimana dia bersyukur pada-Ku. Aku akan limpahkan kepadanya nikmat-nikmat-Ku dan akan Kuperlihatkan kepadanya rahmat-Ku.”
<18/06/08>
BERENDAH DIRI KEPADA DHU’AFA
Allah swt. pernah berfirman kepada Nabi Musa a.s, Wahai Musa, apakah kautahu berapa besar rahmat-Ku yang Kuberikan padamu?”
“Engkau lebih kasih kepadaku ketimbang ibuku sendiri,” jawab Musa.
“Wahai Musa, ibumu mengasihanimu lantaran kasih-Ku yang Kucurahkan padanya. Akulah yang menaruh belas kasih padanya. Akulah yang menggembirakan hatinya sehingga dia abaikan rasa kantuknya demi mengasuhmu. Kalau tidak, maka sikapnya terhadapmu akan sama dengan sikap wanita-wanita lainnya. Wahai Musa, tahukah kamu apabila ada hamba-Ku yang mempunyai dosa dan kesalahan sehingga memenuhi ruang bumi dan langit, Aku akan tetap mengampuninya tanpa Aku peduli?”
“Ya Rabbi, bagaimana sampai Kau peduli?” tanya Musa. “Karena ada satu sifat mulia dalam diri hambaKu yang sangat Kusenangi: kecintaannya kepada orang-orang mukmin yang fakir; dia tunaikan hak-hak mereka; dia tidak mengangkat dirinya lebih tinggi dari mereka; dan dia tidak bersikap sombong terhadap mereka. Apabila berlaku seperti ini, maka aku akan ampuni dosa-dosanya tanpa Aku peduli. Wahai Musa, sesungguhnya kemegahan adalah selendang-Ku, keangkuhan adalah sandang-Ku. Siapa yang menandingi-Ku dalam hal ini maka Aku akan mengazabnya dengan api neraka-Ku. Wahai Musa, di antara cara mengagungkan kebesaran-Ku ialah bersikap murah terhadap hamba-Ku yang mukmin yang kurang bernasib baik di dunia atas apa yang telah Kuberikan padanya bagian dari dunia ini. Apabila dia bersikap sombong kepadanya, berarti dia telah meremehkan keagungan-Ku.
<10/06/08>
KASIH SAYANG RASULULLAH TERHADAP BINATANG
Rasulullah SAW sangat mengasihi binatang. Baginda melarang anak-anak menyiksa bianatang. Untuk menyembelih binatang, Rasulullah SAW berpesan supaya menggunakan pisau yang tajam, agar binatang tersebut cepat mati dan tidak lama dalam kesakitan.
Rasulullah SAW sering mengingatkan supaya unta-unta dan keledai tidak dibebani oleh muatan yang berlebihan daripada yang sanggup ditanggungnya.
Pernah seekor kucing tidur di atas serban Rasulullah SAW. Maka baginda menggunting bagian yang ditiduri kucing itu karena tidak mau mengejutkan kucing tersebut.
Ketika dalam perjalanan dari Madinah ke Makkah di tahun kemenangan, Rasulullah melihat seekor ajing di tepi jalan. Anjing itu mengeluarkan suara seakan-akan membujuk anaknya yang sedang mengerumuninya untuk menyusu. Maka Rasulullah meminta seorang Sahabat untuk menjaga jangan sampai ada dari kalangan anggota rombongan baginda yang mengganggu anjing itu dan anak-anaknya.
Ketika Rasulullah melihat seekor keledai yang telah diberi tanda dengan besi panas di mukanya, baginda menetangnya dan melarang hewan diberi tanda dan dipukul di mukanya.
<03/06/08>
NABI MUHAMMAD SEBAGAI KECINTAAN MODEL
Satu ketika seorang musuh bernama Da’thur menemukan Rasulullah SAW sedang beristirahat di sebuah batu. Dia terus melompat dan meletakkan pedangnya di leher Rasulullah SAW dan berkata,”Siapa yang akan menyelamatkan nyawamu dari tanganku?”
Rasulullah SAW spontan menjawab, “ALLAH!”
Mendengar jawaban Rasulullah itu, Da’thur menggeletar hingga pedang jatuh dari tangannya. Rasulullah SAW mengambil pedang itu dan bertanya, “Kali ini siapa yang akan menyelamatkan kamu dari tanganku?”
Da’thur terdiam dan menjawab.”Tidak ada siapa-siapa.”
Akhirnya Rasulullah SAW memaafkan Da’thur. Melihat kasih sayang yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW itu, Da’thur pun mengucap dua kalimah syahadah (masuk Islam).
<28/05/08>
BETAPA BERHARGA WAKTU BAGI ORANG YANG MENUNTUT ILMU
Disebutkan oleh adz-Dzahabi dalam kitab Tazkiratul Huffadz dan dalam Sair A’lam an-Nubala dari Ibnu Abi Hatim pengarang kitab Al Jarh wa at-Ta’dil, dia berkata,
“Kami berada di Mesir selama tujuh bulan dan selam itu kami tidak pernah makan sayur dan daging,. Siang kami tercurah untuk duduk dengan para ulama dan malam kami tercurah untuk menyalin buku dan menemui guru-guru. Suatu hari kami mendatangi guru kami. Orang-orang berkata,‘Dia sedang sakit’
Di tengah perjalanan kami melihat seekor ikan yang sangat menarik sekali, kemudian kami membelinya. Sesudah sampai di rumah ternyata waktu untuk menghadiri majelis ilmu sudah tiba sehingga tidak mungkin kami mengurusi ikan ini. Lalu kami pergi ke majelis ilmu.
Ikan itu tidak kami apa-apakan selama tiga hari sehingga warnanya hampir berubah. Dengan terpaksa kami memakannya mentah-mentah. Kami tidak punya waktu kosong untuk membakar ikan tersebut. Guru kami berkata, ‘Sesungguhnya ilmu itu tidak bisa didapatkan dengan istirahatnya jasad.”
<22/05/08>
NILAI TAMU DI HADAPAN NABI
Rumah Rasulullah saw sering dibanjiri para tamu. Mereka datang untuk suatu hajat atau untuk mendengar nasihat serta bimbingan khusus. Hari itu Jarir bin Abdullah Al-Bajli agak terlambat datang ke rumah Rasulullah. Para sahabat yang lain sudah lebih dahulu datang dan duduk berimpitan di rumah Nabi yang sederhana itu. Karena terlambat, Jarir lantas duduk di serambi rumah Nabi tanpa alas.
Melihat Jarir yang duduk tanpa alas, Nabi melepaskan syal yang ada di pundaknya lalu memberikannya kepada Jarir. ’Hai Jarir, duduklah di atas syalku ini,”kata Nabi.
Jarir mengambil syal itu, lalu mengusap-usapkan ke wajahnya sambil menangis terharu. Dilipatnya syal tersebut seperti semula dan dikembalikannya kepada Rasulullah.
”Mana mungkin aku akan duduk di atas pakaianmu wahai Nabi Allah. Semoga Allah memuliakanmu sebagaimana kau muliakan aku, ”kata Jarir terharu.
Sambil menoleh ke kanan dan ke kiri Rasulullah bersabda,”Apabila datang kepada kalian seorang tamu yang mulia, maka muliakanlah dia; dan apabila datang kepada kalian seorang yang ada hajat atau hak terhadap kalian, maka muliakanlah dia.”
|