05 Sept 2010
    
 
Menu    >> Home  >> >> KISAH TELADAN DAN KISAH SAHABAT RASUL 
Agenda

 

Polling

 


<08/10/08>

UTSMAN BIN MAZHUN
(Yang Berkurban Demi Islam)

Utsman bin Mazhun adalah pendeta kuil kehidupan. Dia orang yang ke-14 dari mereka yang masuk Islam. Dan sahabat yang pertama kali dikubur di pekuburan Baqi’, sebagaimana ia juga orang yang pertama kali hijrah ke negeri Habasyah dan yang melakukan dua kali hijrah.

Saat ia mengetahui bahwa sikap permusuhan orang-orang Quraisy terhadap kaum muslimin menjadi lunak, maka ia kembali ke Makkah, namun ternyata ia mendapat penyiksaan. Maka ia bergabung dengan orang yang mendapat perlindungan dari Walid bin Mughirah sehingga iapun mendapat perlindungan. Dan saat ia menyaksikan kaum muslimin disiksa, maka ia keluar darinya sambil berkata, ”Aku rela mencari perlindungan dari Allah dan tidak sudi meminta perlindungan kepada selain-Nya.”

Lalu ia duduk untuk mendengarkan seorang penyair tenar Labid bin Rabi’ah, salah seorang penggubah bait-bait al-Mu’allaqat. Ia melantunkan satu bait,”Ketahuilah, bahwa apa saja selain Allah adalah bathil.”
Maka Utsman menyahut,”Engkau benar.”
Lalu Labid melanjutkan,”Dan setiap kenikmatan pasti hilang.”

Mendengar ucapan Labid itu, maka ia menimpali, ”Sesungguhnya nikmat surga tidak akan fana.”

Labid merah mendengar kata-kata ’Utsman seperti itu, ia berseru,”Wahai segenap bangsa Quraisy, temanmu ini menyakiti.”
Maka seorang pria mendekati Utsman dan memukul mukanya hingga matanya luka. Menyaksikan kejadian itu, maka Walid menukas,”Engkau sebelum ini berada dalam perlindungan yang kuat.”
Utsman menyahut, ”Demi Allah, kedua mataku yang sehat sungguh membutuhkan sesuatu yang menimpa saudara-saudaranya karena Allah. Sesungguhnya aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih mulia dari engkau, hai Walid!”
Ia disiksa di jalan Allah. Namun ia tegar dan tabah. Ia pergi hijrah ke Madinah dan berubah menjadi seorang rahib (ahli ibadah) yang beribadah kepada Allah siang dan malam. Ia bahkan meninggalkan isterinya sampai ia ditegur oleh Rasulullah Saw, ”Hai Utsman, tiadakah engkau menjadi teladan bagiku?”

Utsman bin Mazhun menjawab,”Bagaimana mungkin , bukankah engkau adalah teladan yang baik?
Rasulullah Saw bertutur,”Tubuhmu punya hak yang harus engkau penuhi. Matamu memiliki hak yang harus engkau tunaikan dan keluargamu mempunyai hak yang harus engkau penuhi.” (HR. Muttafaq ’alaih)

Rasulullah Saw mencintainya bahkan menangisinya saat ia pergi dari alam dunia untuk selama-lamanya.
Ketika putri Nabi yang bernama Ruqayyah meninggal, beliau berkata kepadanya: ”Pergilah engkau bergabung dengan pendahulu kita yang shaleh, Utsman bin Mazhun.”

Rasulullah Saw melepas kepergiannya dengan ucapannya,”Mudah-mudahan Allah mengucuri rahmat kepada engkau wahai Abu Saib. Engkau keluar dari dunia ini dengan apa yang engkau dapat kan dari dunia dan apa yang diperoleh dunia darimu.” (Usud Al-Ghabah)

Semoga Allah meredhai Utsman bin Mazhun

 

<29/09/08>

AISYAH RA BINTI ABU BAKAR ASH SHIDDIQ

(Wanita Teladan)


Tujuh tahun sebelum hijrah, lahir seorang anak berparas cantik, berkulit putih, puteri dari sahabat mulia, khalifah Rasulullah Saw, Abu Bakar ash Shiddiq dan isterinya Ummu Rumman. Dia adalah Aisyah ra gadis kecil yang nantinya akan tercatat sebagai salah satu pendamping Rasulullah Saw sekaligus menjadi ibu bagi kaum muslimin.


Sebelum menginjak remaja, Allah telah menetapkan keutamaan yang besar ini untuknya, di usianya yang keenam terjalin akad pernikahan suci antara Aisyah ra dan Rasulullah Saw. Sebuah akad yang mengukuhkan gelarnya sebagai Ummul Mu’minin.


Pada Bulan Syawal tahun 2 H Rasulullah Saw memulai kehidupan rumah tangganya bersama Aisyah ra. Dirumah ini Aisyah ra mulai membuka catatan lembar kehidupan barunya, dia jalani kehidupan rumah tangga yang bahagia dan penuh dengan berkah dengan bimbingan ilmu dari suami tercinta, betapa besar faedah ilmu yang dia dapatkan dari Rasulullah Saw, hingga dikatakan seandainya terkumpul ilmu seluruh wanita niscaya ilmu Aisyah ra lebih utama. Dialah wanita mulia yang menguasai berbagai cabang ilmu, seperti al Quran, al Hadits, sejarah, hukum pidana, hukum waris dan lain-lain. Bahkan dialah yang menjadi tempat para sahabat menanyakan masalah yang mereka hadapi. Inilah bukti nyat kesuksesan metode pengajaran Rasulullah Saw pada isterinya.


Di usia yang begitu muda, Aisyah ra mampu menjalankan tugasnya sebagai seorang isteri yang dapat menghadirkan ketenteraman dan kebahagiaan di hati suaminya. Isteri yang memperhatikan hak suami dan mentaati suami sebagai bentuk ketaatan kepada Rabbnya.


Kebagusan akhlak dan kejernihan fikiran yang dimiliki Aisyah ra di usianya yang masih muda adalah sebagian dari buah pendidikan orang tuanya dan hasil bimbingan luar biasa dari Madrasah Nubuwwah yang dipimpin suaminya. Kematangan peribadinya bisa kita lihat dalam sebuah peristiwa yang dihadapinya, di saat Allah SWT berkehendak untuk mengujinya dengan sebuah ujian yang sama sekali tidak pernah terlintas di dalam benaknya, sebuah ujian yang menggoncangkan kehidupan rumah tangganya, laksana ombak besar yang menerjang kapal yang tengah berlayar.


Kisah ini berawal ketika Aisyah ra ikut serta dalam rombongan Rasulullah Saw dan para sahabat dalam perjalanan pulang dari pertempuran Bani Mustholiq. Pada suatu tempat, rombongan berhenti untuk beristirahat, ketika itu Aisyah ra keluar dar rombongan untuk menunaikan hajatnya. Ketika ia hendak kembali lagi ke rombongan, tiba-tiba Aisyah ra menyadari bahwa kalung yang dipakainya telah hilang, dia pun  berhenti di tempat itu untuk mencari kalungnya hingga tanpa disadari dia ditinggal oleh rombongan yang melanjutkan perjalanan. Aisyh tetap menunggu di tempat itu hingga rasa kantuk mulai mengalahkannya dan tidak seberap lama dia pun tertidur di sana.


Pada waktu yang Allah SWT tetapkan, seorang sahabat mulia Shofwan bin al-Mu’athol  (yang juga tertinggal dari rombongan) melewati tempat itu, Shofwan  mengenali wanita yang sedang tidur itu adalah Ummul Mu’minin Aisyah ra, ketika itu Shofwan mengucapkan istirja’ (Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un), mendengar kalimat istirja’ ini Aisyah ra terbangun dari tidurnya. Tanpa berbicara, Shofwan lantas menderumkan hewan tunggangannya sebagai isyarat agar Aisyah ra menaikinya, kemudian Shofwan menuntun tunggangannya dengan berjalan kaki.


Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari lisan keduanya hingga mereka bertemu kembali dengan rombongan Rasulullah Saw. Melihat kedatangan Aisyah ra bersama Shofwan, orang-orang membuat tuduhan dusta bahwa Aisyah ra telah berzina. Tuduhan keji ini terus berkembang hingga sampai ke telinga Ummul Mu’minin Aisyah ra. Tiada yang terlontar dari lisannya selain sebuah kalimat yang menunjukkan kesempurnaan keimanan, ketaqwaan dan kesabarannya. Aisyah ra berkata:”Kalian telah mendengar berita ini hingga diri-diri kalian terpengaruh dengannya. Sungguh jika aku mengatakan aku bersih dari tuduhan itu, kalian tidak akan mau membenarkanku, tetapi sebaliknya jika seandainya aku mengakui perbuatan yang tidak pernah aku lakukan ini, kalian akan membenarkanku padahal Allah SWT mengetahui aku bersih dari semua itu. Maka tidaklah aku dapati sebuah pemisalan untukku dan kalian kecuali apa yang aku dapatkan dari Nabi Yaqub as, ayah anda Nabiyyullah Yusuf as ketika beliau berkata:


......Maka kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan terhadap apa yang kamu ceritakan. (QS. Yusuf<12>:18)


Hingga akhirnya di puncak kegundahan dan kesedihannya Allah SWT menurunkan ayat  sebagai pembelaan untuknya, membersihkan namanya dan menyucikan kehormatannya. Pembelaan dari atas langit yang ketujuh ini tercatat dalam surat an-Nur ayat ke 11 dan sembilan ayat setelahnya.
Setelah peristiwa ini, semakin jelaslah siapa saja orang munafik yang selama ini berada di tengah-tengah kaum muslimin dan semakin nampaklah keutamaan Ummul Mu’minin Aisyah ra.


Setelah kewafatan Rasulullah Saw, Aisyah ra  tampil sebagai mu’allimah (pengajar) yang mengajarkan ilmu kepada para sahabat dan generasi sesudahnya. Aisyah ra juga senantiasa memberi nasehat bagi kaum wanita untuk memperbaiki dan meluruskan mereka.


Pada tahun 57 H, Aisyah  ra pulang menghadap Rabbnya pada usia 66 tahun. Keharuman namanya, keluasan ilmunya dan kebagusan akhlaknya telah menghiasi lembaran catatan perjalanan hidup manusia. Ummul Mu’minin Aisyah ra binti Abu Bakar ra semoga Allah SWT meredhainya.


<15/09/08>

ABDULLAH BIN ZUBAIR
(Anak Muslim Yang Pertama Kali Lahir di Madinah)


Kedua orangtuanya adalah orang dekat Rasulullah Saw, Zubair bin Awwam dan Asma binti Abu Bakar, yang terkenal dengan Dzat An-Nithaqain (si empunya dua ikat pinggang) dan seorang pahlawan wanita hijrah.

Orang-orang Yahudi telah menyebarkan satu pandangan bahwa orang-orang Islam tidak akan melahirkan anak laki-laki selamanya

Ketika Asma, ibu Abdullah bin Zubair melahirkannya, maka Rasulullah girang. Beliau menggendongnya, dan jadilah yang pertama kali masuk ke mulut Abudullah adalah ludah Rasulullah Saw.

Abdullah bin Zubair tumbuh dengan menyukai naik kuda, banyak belajar Al-Quran dan ilmu. Dia suka mengumpulkan anak-anak Madinah untuk melatih mereka berperang. Dia senang memimpin sejak kecil.

Suatu hari Sayidina Umar bin Khaththab lewat. Anak-anak yang lain menyingkir takut tetapi ia diam di tempatnya. Maka khalifah Umar bertanya,”Kenapa engkau tidak lari seperti teman-temanmu.”

Abdullah bin Zubair menjawab,”Mengapa aku harus menghindar darimu. Bukankah jalanan lebar, aku juga tidak berbuat salah. Jadi aku tidak takut kepada engkau!”

Maka Sayidina Umar yang memiliki firasat kuat berkata,”Jika nanti anak ini besar, dia akan punya kedudukan.”

Apa yang dikatakan Umar itu benar terjadi. Abdullah bin Zubair turut dalam banyak peperangan bahkan memperlihatkan keberaniannya yang luar biasa. Dia juga ikut dalam penaklukan Afrika, andalus dan Konstatinopel.


Saat berhadapan dengan pasukan Afrika yang berjumlah sekitar 100.000 personil – sedang prajurit Islam hanya berjumlah 20.000 orang, maka ia punya pendapat harus membunuh raja mereka. Oleh karena itu, ia berseru kepada para prajurit agar melindungi dia dan dia akan lompat membunuh raja itu. Raja pun terbunuh sehingga merka kocar-kacir.

Abdullah bin Zubair banyak kembali kepada Allah dan banyak puasa, sering menangis karena khasyyatillah (takut kepada Allah). Saat ia sujud, burung hinggap di punggungnya dengan tenang karena saking tenang dan lamanya ia sujud. Abdullah bin Zubair seorang yang suka membaca Al Quran yang mengikuti sunnah Rasulullah, yang banyak shalat dan puasa di siang hari yang panas menyengat. Ia adalah putra orang dekat Rasulullah, anak Asma si Dzatu An-Nithaqin, bibinya adalah Aisyah isteri Rasulullah Saw. Maka tidak ada yang tidak mengetahui kedudukannya kecuali orang yang dibutakan hatinya oleh Allah.

Ketika Abdul Malik bin Marwan berkuasa dan ia orang yang sangat berkepala batu, maka ia menugasi Hajjaj bin Yusuf ars-Tsaqafiy untuk menghadapi Abdullah bin Zubair. Hajjaj adalah seorang yang haus darah. Ia mengepung Hijaz dan memukul Kabah dengan sebuah alat perang lalu membakarnya. Sementara Abdullah bin Zubair berlindung di rumah. Karena teman-teman dan anak-anaknya lari, maka ia pergi menemui ibunya (Asma) yang pandangan matanya telah kabur.

Ia meminta pendapat kepada ibunya, ”Mereka akan memberikan dunia bila aku menyerah kepada mereka.”


Mendengar ucapan anaknya itu, Asma menjawab, ”Demi Alah, satu pukulan pedang karena kemuliaan lebih baik dari seribu pukulan cemeti dalam kehinadinaan.”

”Aku takut mereka akan mengiris-iris tubuhku kalau aku terbunuh”, ucap Abdullah.

Asma menukas,”Apakah kambing yang telah mati merasakan sakit saat dikuliti?” Ucapannya ini cukup populer.

Maka Abdullah bin Zubair keluar dan berperang menghadapi mereka yang jumlahnya banyak sampai ia gugur sebagai syahid. Hajjaj lalu mendatangi ibunya, Asma, seraya menawarkan sesuat, ”Engkau membutuhkan sesuatu?”


Dengan lantang Asma menjawab,”Aku telah mendengar satu hadist dari Rasulullah, akan muncul dari bani Tsaqif seorang pendusta besar dan pembantai. Pendusta besar itu telah kami kenal, sedang pembantai itu tidak kami kenal selain engkau.”

Abdullah bin Zubair disalib. Datanglah Asma dan berkata, ”Ketahuilah, kini datang saatnya si penunggang kuda itu untuk jalan kaki.”

Suatu ucapan yang menunjukkan ketegaran dan kemuliaan. Lalu orang-orang menurunkan tubuh Abdullah dan menguburkannya, sementara Asma menangisinya sampai datang kepadanya kematian. Saudara Abdullah bin Zubair, yakni Mis’ab telah mendahuluinya sebagai syahid.

Semoga Allah meridhai Sayidina Abdullah bin Zubair.


<24/08/08>

ASMA BINTI YAZID BIN SAKAN
(Ahli Pidato Kaum Wanita)


Kuniyah (panggilan) nya adalah Ummi Amiral-Ausiyah al Asyhaliyah. Ia putri paman Mu’adz bin Jabal. Dia telah berbai’at kepada Rasulullah Saw. Asma binti Yazid bin Sakan bertanya banyak masalah kepada Rasulullah Saw dan menyampaikan pertanyaan dengan detail dalam masalah fiqih. Dialah yang pernah bertanya kepada beliau, ”Apakah wanita terzhihar karena haidh?”


Asma binti  Yazid adalah seorang  ahli pidato yang ulung yang datang kepada Rasulullah Saw berkenaan dengan tawanan wanita ujarnya, ”Wahai Rasulullah, seorang utusan datang setelah aku dari kalangan kaum wanita beriman yang semuanya berkata sesuai perkataanku dan mereka sependapat denganku, bahwa Allah Ta’ala telah mengutus engkau untuk kaum pria dan wanita, lalu kami beriman dan mengikuti agama engkau. Namun kami sebagai kaum wanita terbatas langkahnya, tinggal di rumah, mengurus suami dan melahirkan anak-anak mereka, sementara kaum pria diberi kelebihan dengan berkumpul, menghadiri jenazah dan berjihad. Manakala mereka keluar untuk jihad, kami pelihara harta mereka, kami didik anak-anaknya, kami juga ingin mendapat pahala seperti yang mereka dapatkan itu.”


Rasulullah Saw bersabda kepada para sahabatnya, ”Sudikah kalian mendengar ucapan wanita yang menyampaikan pertanyaan paling baik tentang agamanya selain dari dia?”

Para sahabat menjawab, ”Ya, kami mendengarnya wahai Rasulullah!”

Maka Rasulullah Saw menanggapi ucapan Asma sebagai berikut, ”Wahai Asma, pergilah dan sampaikanlah kepada teman dan saudar-saudaramu dari kalangan wanita bahwa berbakti kepada suami dan berusaha meraih redhanya serta mematuhinya, pahalanya sebanding dengan pahala yang didapat kaum pria yang engkau sebutkan itu.” (HR. Hakim)


Asma binti Yazid pernah menjadi pelayan Rasulullah Saw. Ujarnya,”Sungguh, aku telah memegang tali unta Rasulullah saat turun kepadanya Surat Al-Maidah seluruhnya. Karena turunnya surat tersebut nyaris memecahkan leher unta beliau.

Dan Asma juga bercerita,”Sekali waktu Rasulullah Saw menjumpai aku bersama sekelompok kaum wanita. Lalu beliau mengucap salam dan kami menjawabnya.  Dan Aku telah ikut dalam banyak peperangan untuk mengobati tentara yang terluka terutama pada perang Yarmuk.”

Semoga Allah meredhai Sayidatina Asma binti Yazid


<19/07/08>

HUDZAIFAH IBNUL YAMAN

Seteru Kemunafikan, Kawan Keterbukaan

Semenjak ia bersama saudaranya, Shafwan, menemani bapaknya menghadap Rasulullah saw dan ketiganya memeluk Islam, sementara Islam menyebabkan wataknya bertambah terang dan cemerlang…., maka sungguh, ia menganutnya itu secara teguh dan suci, serta lurus dan gagah berani, dan dipandangnya sifat pengecut, bohong dan kemunafikan sebagai sifat yang rendah dan hina….

Ia terdidik di tangan Rasulullah saw dengan kalbu terbuka tak ubah bagai cahaya shubuh, hingga tak suatu pun dari persoalan hidupnya yang tersembunyi. Tak ada rahasia terpendam dalam lubuk hatinya…., seorang yang benar dan jujur, mencintai orang-orang yang teguh membela kebenaran, sebaliknya mengutuk orang-orang yang berbelit-belit dan riya, orang-orang culas bermuka dua….!

Ia bergaul dengan Rasulullah saw dan sungguh, tak ada lagi tempat baik di mana bakat Hudzaifah ini tumbuh subur dan berkembang sebagai halnya di arena ini, yakni dalam pangkuan Agama Islam, di hadapan Rasulullah dan di tengah-tengah golongan besar Kaum perintis dari sahabat-sahabat Rasulullah saw….


Bakatnya ini benar-benar tumbuh menurut kenyataan…..

Hingga ia berhasil mencapai keahlian dalam membaca tabiat dan airmuka seseorang. Dalam waktu selintas kilas, ia dapat menebak air muka dan tanpa susah payah akan mampu menyelidiki rahasia-rahasia yang tersembunyi serta simpanan yang terpendam…..

Kemampuannya dalam hal ini, telah sampai kepada apa diinginkannya, hingga Amirul Mu’minin Umar ra yang dikenal sebagai orang yang penuh dengan inspirasi – seorang yang cerdas dan ahli, sering juga mengandalkan pendapat Hudzaifah, begitu pula ketajaman pandangannya dalam memilih tokoh dan mengenali mereka.


Sungguh Hudzaifah telah dikaruniai fikiran jernih, menyebabkan sampai pada suatu kesimpulan, bahwa dalam kehidupan ini sesuatu yang baik itu adalah yang jelas dan gamblang, yakni bagi orang yang betul-betul menginginkannya.

Berkatalah ia:

“orang-orang menanyakan kepada Rasululla saw tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya. Pernah kubertanya: “Wahai Rasulullah, dulu kita berada dalam kejahiliyahan dan diliputi kejahatan, lalu Allah mendatangkan kepada kita kebaikan ini……, apakah di balik kebaikan ini ada kejahatan…? “Ada”, ujarnya. “Kemudian apakah setelah kejahatan masih ada lagi kebaikan…?” tanyaku pula. “Memang, tetapi kabur dan bahaya….?” Apa bahaya itu…? “Yaitu segolongan ummat mengikuti sunnah bukan sunnahku, dan mengikuti petunjuk bukan petunjukku. Kenalilah mereka olehmu dan laranglah…”.”Kemudian setelah kebaikan tersebut masihkah ada lagi kejahatan…?”, tanyaku pula. “Masih”, ujar Nabi, “yakni para tukang seru di pintu neraka. Barangsiapa menyambut seruan mereka, akan mereka lemparkan ke dalam neraka….!”
Lalu kutanyakan kepada Rasulullah:”Ya Rasulullah, apa yang harus saya perbuat bila saya menghadapi hal demikian…?” Ujar Rasulullah: “senantiasa mengikuti jama’ah kaum muslimin dan pemimpin mereka…!

“Bagaiamana kalau mereka tidak punya jama’ah dan tidak pula pemimpin…?” “Hendaklah kamu tinggalkan golongan itu semua, walaupun kamu akan tinggal di rumpun kayu sampai kamu menemui ajal dalam keadaaan demikian…!”


Nah tidakkah anda perhatikan ucapannya: “Orang-orang menanyakan kepada Rasulullah saw tentang kebaikan, tetapi saya menanyakan kepadanya tentang kejahatan, karena takut akan terlibat di dalamnya…!”?

Pengalaman Hudzaifah yang luas tentang kejahatan dan ketekunannya untuk melawan dan menentangnya, menyebabkan lidah dan kata-katanya menjadi tajam.. Hal ini diakuinya kepada kita secara ksatria, katanya:

“Saya datang menemui Rasulullah saw, kataku padanya: Wahai Rasulullah, lidahku agak tajam terhadap keluargaku, dan saya khawatir kalau-kalau hal itu akan menyebabkan saya masuk neraka….Maka ujar Rasulullah saw: Kenapa kamu tidak beristighfar…? Sungguh, saya beristighfar kepada Allah tiap hari seratus kali…”


Inilah dia Hudzaifah musuh kemunafikan dan sahabat keterbukaan… Dan tokoh semacam ini pastilah imannya teguh dan kecintaannya mendalam. Demikianlah pula halnya Hudzaifah, dalam keimanan dan kecintaanya…

Disaksikannya bapaknya yang telah beragama Islam tewas di perang Uhud…, dan di tangan srikandi Islam sendiri, yang melakukan kekhilafan karena menyangkanya sebagai orang musyrik…!

Huzdaifah melihat dari jauh pedang sedang dihunjamkan kepada ayahnya, ia berteriak: “ayahku …ayahku… jangan ia ayahku”… Tetapi Qadla Allah telah tiba….


Dan  ketika Kaum Muslimin mengetahui hal itu, mereka pun diliputi suasana duka dan sama-sama membisu. Tetapi sambil memandangi mereka dengan sikap kasih sayang dan penuh pengampunan, katanya:

“Semoga Allah mengampuni tuan-tuan, Ia adalah sebaik-baik Penyayang…!”

Kemudian dengan pedang terhunus ia maju ke daerah tempat berkecamuknya pertempuran dan membaktikan tenaga serta menunaikan tugas kewajibannya…


Akhirnya peperangan pun usailah dan berita tersebut sampai ke telinga Rasulullah saw. Maka disuruhnya membayar diyat atas terbunuhnya ayahanda Hudzaifah (Husail bin Yabir) yang ternyata ditolak oleh Sayidina Hudzaifah ini dan disuruh membagikannya kepada kaum Muslimin. Hal itu menambah sayang dan tingginya penilaian Rasulullah terhadap dirinya….


Pada suatu hari diantara hari-hari yang datang silih berganti dalam tahun 36 hijrah, Hudzaifah mendapat panggilan menghadap Ilahi…Dan tatkala ia sedang berkemas-kemas untuk berangkat melakukan perjalanannya yang terakhir, masuklah beberapa orang sahabatnya. Maka ditanyakannya kepada mereka:

“Apakah tuan-tuan membawa kain kafan…?”
“Ada”, ujar mereka.
“Coba lihat”, kata Hudzaifah pula.

Maka tatkalah dilihatnya kain kafan itu baru dan agak mewah, terlukislah pada kedua bibirnya senyuman terakhir bernada ketidaksenangan, lalu katanya:

“Kain kafan ini tidak cocok bagiku…!
Cukuplah bagiku dua helai kain putih tanpa baju..!
Tidak lama aku akan berada dalam kubur, menunggu diganti dengan kain yang lebih baik atau dengan yang lebih jelek..!”


Kemudian ia menggumamkan beberapa kalimat dan sewaktu didengarkan oleh hadirin dengan mendekatkan telinga mereka kedengaranlah ucapannya:

“Selamat datang, wahai maut
Kekasih tiba di waktu rindu
Hati bahagia tak ada keluh atau sesalku…”.

Ketika itu ruhnya kembali ke hadirat Ilahi, ruh suci di antara arwah para shalihin, ruh yang cemerlang, taqwa, tunduk dan berbakti….


<08/07/08>

BILAL BIN RABAH

Muaddzin Rasulullah …..Lambang Persamaan  Derajat Manusia


Ia adalah Muaddzin Rasul. Asalnya seorang budak, yang disiksa oleh tuannya dengan batu panas, agar ia meninggalkan Islam, tetapi jawabnya: “….Ahad….Ahad..!—Allah Yang Maha Tunggal….Allah Yang Maha Tunggal….!”

Dan setelah Anda lihat keabadian yang telah dianugerahkan Islam kepada Bilal…., bahwa sebelum Islam, Bilal ini tidak lebih dari seorang budak belian; yang menggembalakan unta milik tuannya dengan imbalan dua genggam kurma! Tanpa Islam, pastilah ia takkan luput dari kenistaan perbudakan—sampai maut datang merenggutnya—setelah itu orang melupakannya……


Tetapi kebenaran iman dan keagungan Agama yang diyakininya telah meluangkan baginya dalam kehidupan dan riwayat hidup, suatu kedudukan tinggi pada deretan tokoh-tokoh Islam dan orang-orang sucinya….! Banyak di antara orang-orang terkemuka—golongan berpengaruh dan mempunyai harta – yang tidak berhasil mendapatkan agak sepersepuluh dari keharuman nama yang diperoleh Bilal…!
Bahkan tidak sedikit tokoh-tokoh sejarah yang tidak mencapai separuh kemasyhuran yang dicapai oleh Bilal.

Kehitaman warna kulit; kerendahan kasta dan bangsa; serta kehinaan dirinya di antara manusia selama itu sebagai budak belian, sekali-kali tidaklah menutup pintu baginya untuk menempati kedudukan tinggi yang dirintis oleh kebenaran, keyakinan, kesucian dan kesungguhannya setelah ia memasuki Agama Islam.

Semua itu adalah karena dalam neraca penilaian dan penghormatan yang diberikan kepadanya, tak  ada perhitungan lain kecuali kekaguman; yakni  ketika dijumpai kebesaran yang tidak terduga. Orang menyangka bahwa seorang hamba seperti Bilal, biasanya asal-usulnya tidak menentu; tidak berdaya dan tidak mempunyai keluarga, serta tidak memiliki suatu hak pun dari hidupnya. Dirinya adalah milik tuannya yang telah membeli dengan hartanya, dan kerjanya berada di tengah hewan ternak, pulang balik di antara unta dan domba tuannya. Menurut dugaan mereka, makhluk seperti ini takkan mampu melakukan sesuatu,  atau menjadi sesuatu yang berarti!

Kiranya ia berbeda dengan apa yang disangka dan diperkirakan itu. Karena ia mampu mencapai derajat keimanan yang tidak mungkin dicapai oleh lainnya…., lalu menjadi muaddzin pertama bagi Rasulullah dan Islam; suatu amal yang menjadi inceran bagi setiap pemimpin dan pembesar Quraisy yang telah masuk Islam dan menjadi pengikut Rasul.


Benar…., Bilal bin Rabiah!
Corak kepahlawan apakah, dan bentuk kebesaran manakah yang ditonjolkan oleh ketiga kata-kata ini,”Bilal bin Rabah…?” Ia seorang Habsyi dari golongan orang berkulit hitam. Taqdir telah membawa nasibnya menjadi budak dari Bani Jumah di kota Mekah, karena ibunya salah seorang hamba sahaya mereka.


Kehidupannya tidak berbeda dengan budak  biasa. Hari-harinya berlalu secara rutin tapi gersang, tidak memiliki sesuatu pada hari itu, tidak pula menaruh harapan pada hari esok. Dan berita-berita mengenai Nabi Muhammad saw. telah mulai sampai ke telinganya, yakni ketika orang-orang di Mekah menyampaikannya dari mulut ke mulut. Juga ketika mendengar obrolan majikannya bersama tetamunya; terutama majikannya Umayah bin Khalaf, salah seorang pemuka Bani Jumah, yaitu kabilah yang menjadi majikan yang dipertuan oleh Bilal.

Lamalah sudah didengarnya Umayah ketika membicarakan Rasulullah, baik dengan kawan-kawannya maupun sesame warga sukunya; mengeluarkan kata-kata berbisa; penuh dengan rasa amarah, tuduhan dan kebencian. Di antara apa yang dapat ditangkap oleh Bilal dari ucapan kemarahan yang tidak berujungpangkal itu, ialah sifat-sifat yang melukiskan Agama baru baginya. Dan munurutnya hematnya, sifat-sifat itu merupakan hal-hal baru dipandang dari sudut lingkungan di mana ia tinggal. Sebagaimana juga di antara ucapan-ucapan yang keras penuh ancaman itu, tapi pula kedengaran olehnya pengakuan mereka akan kemulian Nabi Muhammad saw, tentang kejujuran dan keterpercayaannya….!

Didengarnya mereka mempercakapkan kesetiaannya menjaga amanat…, tentang kejujuran dan ketulusannya….., tentang akhlak dan kepribadiannya…. Didengarnya pula mereka berbisik-bisik mengenai sebab yang mendorong mereka menentang dan memushinya, yaitu: pertama kesetiaan mereka terhadap kepercayaan yang diwariskan nenek moyangnya; dan kedua kekhawatiran merosotnya kemuliaan Quraisy, kemuliaan yang mereka peroleh sebagai imbalan kedudukan mereka menjadi markas keagamaan, sebagai pusat ibadah dan upacara haji di srat jazirah Arab…., kemudian kedengkian terhadap Bani Hasyim, kenapa munculnya Nabi dan Rasul itu dari golongan ini dan bukan dari pihak mereka…!

Pada suatu hari, Bilal bin Rabah mendengar imbauannya dalam lubuk hatinya yang suci murni. Maka ia mendapatkan Rasulullah saw dan menyatakan keislamannya. Dan tidak lama antaranya, berita rahasia keislaman Bilal terungkaplah…, dan beredar di antara kepala tuan-tuannya dari Bani Jumah yakni Umayah bin Khalaf.
 
Siksaan demi siksaan yang didapat dari majikannya agar ia melepaskan keislamannya. Tetapi Bilal bin Rabah tetap tegar. Waktu pagi hampir berlalu, waktu zuhur dekat menjelang dan Bilal pun dibawa orang ke padang pasir, tetapi tetap sabar dan tabah, tenang tak tergoyah, sementara mereka menyiksanya, tiba-tiba datanglah Abu Bakar Shiddiq, serunya: “Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki karena mengatakan bahwa Tuhanku ialah Allah?!” Kemudian katanya kepada Umayah bin Khalaf:”Terimalah ini untuk tebusannya, lebih tinggi dari harganya, bebaskan ia…”

Bagai orang yang hampir tenggelam, tiba-tiba diselamatkan oleh sampan penolong, demikian halnya Umayah saat itu; hatinya lega dan merasa amat beruntung demi didengarnya Abu Bakar hendak menebus budaknya.  Ia telah berputus asa akan menundukkan Bilal. Apalagi mereka adalah orang-orang saudagar, dengan dijualnya Bilal mereka melihat keuntungan yang tidak akan diperoleh dengan jalan membunuhnya.

Kemudian pergilah Sayidina Abu Bakar bersama Bilal sahabatnya itu kepada Rasululullah saw. dan menyampaikan berita gembira tentang kebebasannya, maka saat itu pun tak ubah bagai hari raya besar juga..!

Pada hari itu pilihan Rasulullah jatuh atas dirinya sebagai muaddzin pertama dalam Islam. Dan dengan suaranya yang merdu dan empuk diisinya dengan keimanan dan telinga dengan keharuan , sementara seruannya menggemakan


<27/06/08>

UTBAH BIN GHAZWAN

“Esok Lusa Akan Kalian Lihat Pejabat-Pejabat Pemerintahan Yang Lain Daripadaku”


Diantara Muslimin yang lebih dulu masuk Islam, dan di antara muhajirin pertama yang hijrah ke Habsyi, kemudian ke Madinah.... diantara  pemanah pilihan yang tak banyak jumlahnya yang telah berjasa besar di jalan Allah, terdapat seorang laki-laki yang perawakan tinggi dengan muka bercahaya dan rendah hati, namanya Utbah bin Ghazwan......


Ia adalah orang ketujuh dari kelompok tujuh perintis yang bai’at berjanji setia, dengan menjabat tangan kanan Rasulullah dengan tangan kanan mereka, bersedia menghadapi orang-orang Quraisy yang sedang memegang kekuatan dan kekuasaaan serta gemar menuruti nafsu angkara....


Pada hari-hari pertama dimulainya da’wah...., dan pada hari-hari penderitaan dan kesukaran, Utbah bersama kawan-kawannya telah memegang teguh suatu prinsip hidup yang mulia, yang kelak kemudian menjadi bekal dan makanan bagi hati nurani manusia dan akan berkembang menjadi luas melalui perkembangan masa.......


Sewaktu Rasulullah saw. menyuruh sahabat-sahabatnya berhijrah ke Habasyi, termasuklah Utbah di antara orang muhajirin itu.....Tetapi kerinduannya kepada Nabi saw. tidak membiarkannya menetap di sana, segeralah ia menjelajah daratan dan mengarungi lautan kembali ke Mekah, lalu tinggal di sana di samping Rasul hingga datang saatnya hijrah ke Madinah, maka Utbah pun hijrah bersama Kaum Muslimin lainnya.....


Amirul Mukminin Umar mengirimkannya ke Ubullah untuk membebaskan negeri itu dan membersihkan buminya dari orang-orang Persi yang menjadikannya sebagai batu loncatan untuk menghancurkan kekuatan Islam yang sedang maju melintas wilayah-wilayah kerajaan Persi, serta untuk membebaskan negeri Allah dan hamba-Nya dari cengkeraman penjajahan mereka....


Dan berkatalah Umar kepadanya sewaktu melepaskan bersama tentaranya:

”Berjalanlah anda bersama anak buah anda, hingga sampai batas terjauh dari negeri Arab, dan batas terdekat negeri Persi...!”

”Pergilah dengan restu Allah dan berkah-Nya...! Serulah ke jalan Allah siapa yang mau dan bersedia..!”

”Tabahlah menghadapi musuh serta taqwalah kepada Allah Tuhanmu...!”

Pergilah Utbah memimpin pasukannya yang tidak seberapa besar itu hingga sampai ke Ubullah...Ketika itu orang-orang Persi telah menyiapkan balatentara mereka yang terkuat.


Dan seolah-olah ia dapat membaca apa yang akan terjadi, karena tak lama setelah terjadi pertempuran kecil-kecilan. Ubullah pun menyerahlah dan daerahnya dibersihkan dari tentara Persi, dan penduduknya terbebas dari kekejaman selama ini, yang mereka rasakan tak ubah dengan mereka..... dan benarlah Allah yang Maha Besar itu telah menepati janji-Nya...!


Di tempat berdirilah Ubullah itu, Utbah membangun kota Basrah dengan dilengkapi saran perkotaan termasuk sebuah mesjid besar... Dan sekarang ia bermaksud meninggalkan negeri itu dan kembali ke Madinah, menjauhkan diri dari urusan pemerintahan, tapi Amirul Mu’minin Umar keberatan dan menyuruhnya tetap di sana.....


Utbah pun memenuhi keinginan khalifah, membimbing rakyat melaksanakan shalat, memberi penger

&l